Laman

Selasa, 17 Desember 2019

Agar Tiwul Tak "Ndeso" Lagi


Namanya Juminem. Aku biasa memanggilnya Bu Jum. Kedua tangannya berlumuran tepung gaplek. Corak putih semacam habis ditaburi bedak yang terdapat pada tangannya itu hasil pekerjaan Bu Jum tiap hari: peracik tiwul.

2 hari sehabis peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini, aku bertemu dengannya di dapur Tiwul, Bantul, Yogyakarta.


Langkah kerja Bu Jum tiap hari kira- kira semacam ini. Bu Jum menerima suatu nampan berisi tepung gaplek yang telah dicampur ampas kelapa dari seseorang yang berdiri di depannya. Dia hendak mengombinasikan bahan topping pada adonan tersebut. Yang sangat laris dibeli orang: rasa gula jawa, gula pasir, coklat, serta keju.



Tidak hingga 2 menit, Bu Jum memungkasi adonan. Dia juga memasukkan racikannya ke dalam kukusan berbahan anyaman bambu yang berupa kerucut. Tiwul itu dicetak dekat seperempat dimensi kukusan. Sepanjang bahan- bahan itu dikukus, Bu Jum giat menengok api pawon yang jadi sumber tenaga pemanas kukusan. Dia memasukkan suatu kayu kering ke lubang perapian. Katanya," Supaya panas."


Bu Jum tidak sendiri. Satu m di hadapannya, seseorang pria bertugas bagaikan pemarut kelapa, sedangkan wanita yang berdiri di sampingnya didapuk bagaikan pencampur tepung gaplek dengan ampas kelapa. Satu pria mengambil tiwul yang sudah matang serta memasukkannya ke dalam kemasan, sebaliknya yang lain hilir mudik melayani pembeli.

Sebagian besar pembeli tiwul yakni para turis. Kedai Tiwul

memanglah terletak di jalan wisata Kabupaten Bantul, Jalur Mangunan. Jalur ini mesti ditempuh mereka yang mau berkunjung ke Makam Raja- Raja di Imogiri. Bantul pula mempunyai beberapa posisi yang digandrungi para turis maniak swafoto semacam Watu Lawang ataupun Hutan Pinus Mangunan. Lokasi- lokasi eksotis itu tidak jauh dari kedai Tiwul

Kausuka Keju, Kusuka Singkong

" Nah itu Mbok Sum," kata Bu Jum, sambil memusatkan telunjuknya ke seseorang wanita yang duduk di atas dipan.

Sumiyem, yang akrab disapa Mbok Sum itu, merupakan kakak Bu Jum. Dia tengah menyantap makan siang. Sementara itu duri jam telah menampilkan jam 5 sore.

" Baru pernah makan," katanya.

2 puluh satu tahun kemudian, Mbok Sum acapkali menghidangkan tiwul bagaikan kudapan buat para tukang yang bekerja di toko mebel kepunyaan suaminya. Menu itu pula yang dia sediakan kala menyelenggarakan tahlilan.


Dikala itu, baginya, belum terdapat orang yang menyajikan tiwul bagaikan kudapan. Tiwul lebih diketahui bagaikan pengganti nasi. Dari sana, lambat- laun ramuan tiwulnya memiliki penggemar tertentu. Pada 2003, dia juga berupaya berjualan tiwul.

" Awal mulanya gunakan gula pasir. Yang makan lambat- laun bosan. Aku mikir- mikir, gunakan apa. Kesimpulannya aku gunakan gula jawa," kenang Mbok Sum.

Triati, gadis Mbok Sum, merasa tiwul ber- topping itu berpotensi buat dibesarkan lebih lanjut. Dia juga turun tangan memasarkan. Pada 2009, Triati menahbiskan tiwul bikinan ibunya dengan nama Tiwul. Semenjak itu, Tri giat mengikutsertakan Tiwul dalam pameran serta kompetisi bisnis.

" Kesimpulannya aku bantu di sisi kemasannya, rasanya. Pokoknya diinovasi terus hingga timbulnya sebagian rasa. Pernah terdapat rasa buah. Aku gunakan Instagram pula buat promosi," ucap Tri.



Bahan baku utama tiwul yakni gaplek, ubi singkong yang sudah dikupas serta dikeringkan sepanjang sebagian hari. Walaupun bukan tumbuhan asli nusantara, singkong merupakan salah satu yang sangat banyak diolah jadi santapan, baik itu pokok ataupun kudapan, oleh orang Indonesia.


" Cassava in Indonesia: its Economic Role and Use as Food"( 1982) yang disusun John A. Dixon mencatat singkong diimpor dari daratan Amerika, sebagaimana kentang manis, kentang putih, jagung, kacang, serta tomat. Tetapi tidak begitu tentu kapan tepatnya tumbuhan itu dibawa ke Jawa.

" Seseorang periset menyangka singkong datang di Jawa pada dini abad ke- 17 dari Maluku, sedangkan periset yang lain merumuskan singkong masuk Jawa pada akhir abad ke- 18," kata Dixon.


Singkong merupakan tumbuhan serbaguna. Daunnya dapat disayur ataupun dijadikan lalapan. Timus, combro, misro, gethuk, tape, lemet, sampai cenil merupakan sederetan kudapan berbahan baku singkong.

Singkong pula sering jadi tumpuan sebagian kelompok warga di Indonesia bagaikan pengganti beras dikala paceklik. Sehingga singkong, begitu pula tiwul, tidak tidak sering dipersepsikan bagaikan santapan tatkala hidup sulit. Walhasil singkong juga jadi stereotip makanannya orang- orang miskin.

Pada era Sukarno, seseorang pelawak di tim wayang orang Sriwedari, Solo bernama Gareng sempat memelesetkan Ganefo jadi" ganewul" yang berarti" segane tiwul"( nasinya tiwul). Ganefo merupakan ajang berolahraga negara- negara anti- nekolim yang digagas Sukarno pada 1963.

Gareng menyentil betapa sulit orang- orang dikala itu buat semata- mata membeli beras, sehingga santapan pokok juga wajib ditukar tiwul, sedangkan pemerintah menghambur- hamburkan duit buat menyelenggarakan acara berolahraga. Gara- gara itu, Gareng dicokok aparat keamanan atas tuduhan subversif.

2 dekade setelahnya, pada 1980- an, Arie Wibowo memopulerkan lagu" Singkong serta Keju". Lagu itu menggambarkan kesenjangan ekonomi yang menganga antara 2 sepasang yang tengah memadu kasih.

Sedangkan Chairul Tanjung, orang terkaya no 7 di Indonesia tipe Forbes, menerbitkan biografi bertajuk Chairul Tanjung, Sang Anak Singkong pada 2012. Judul itu menyiratkan pria yang akrab terpanggil CT tersebut pula sempat jadi orang sulit.

Make Tiwul Great Again



Kesan tiwul bagaikan panganannya orang sulit nampak lenyap kala mencermati omset Tiwul Ayu Mbok Sum. Di situ, tiwul malah dicari- cari.

Dalam satu hari, Tiwul Ayu Mbok Sum terjual paling tidak 7 ratus kotak. Kala masa liburan datang, tiwul yang terjual meningkat jadi 3 ribu.

" Waktu dini Tiwul Ayu buka, kami cuma menjual 30 kotak. Terjual 60 saja telah bagus," kenang Tri.

Buat mengenalkan tiwul bagaikan pengganti nasi, Tri pula meningkatkan Griya Dahar Mbok Sum pada 2016. Lokasinya berdekatan dengan kedai Tiwul Ayu Mbok Sum. Dalam satu hari, Griya Dahar Mbok Sum menjual 200 jatah.

" Aku optimis, sedikit- sedikit,[tiwul] ini dapat dinaikkan kelasnya. Supaya yang makan bukan lagi orang ndeso, yang beli pula bukan orang ndeso," ucap Tri.

Tri tidak sendirian. Seseorang wanita yang terpanggil Bu Hadi menjajakan tiwul khasnya di tepi jalur AM Sangaji, Kota Yogyakarta. Di kota yang sama, tepatnya di Pasar Ringin, tiwul Bu Martini pula terkenal. Di Gunung Kidul, kabupaten sebelah timur Bantul, kedai Tiwul Yu Tum pula sudah masyhur semenjak 1985. Seluruh buat make tiwul great again.



Pengen Tiwul Instan?

Anda bisa dapatkan DISINI.
Hubungi kami segera.


Bp ANDRIAN FIRMANTO
Jl. Raya Bugis No.102, Saptorenggo, Malang, Jawa Timur Kode Pos 65154
Call/SMS/WA : +62-852-5756-6933 [TSEL]
Website: www.tiwulinstanmalang.com


Cara Membuat Gatot Instan Harga Oleh Oleh Khas Malang Harga Oleh Oleh Khas Malang Harga Tepung Tiwul Harga Tiwul per kg Jual Beras Jagung di Malang Bisa Kirim ke Surabaya  Semarang  Jogja  Jakarta  Malang dan Bali Jual Gatot dan Tiwul Instan di Malang bisa kirim ke Jakarta Jual Gatot Instan Jual Gatot Instan Malang Jual Nasi Jagung di Malang bisa kirim ke Sidoarjo Surabaya Probolinggo Batam Tangerang Jakarta Solo Jogja dan Bekasi Jual Nasi Tiwul di Malang bisa kirim ke Surabaya  Jakarta  Bekasi dan Jogja Jual Oleh Oleh Khas Malang bisa kirim ke Jakarta Jual oleh oleh khas Malang bisa kirim ke Surabaya Jual Oleh Oleh Khas Malang Online Jual Tepung Tiwul bisa kirim ke Jakarta Jual Tiwul Jual Tiwul Instan di Malang Bisa Kirim ke Surabaya  Semarang  Jogja  Jakarta  Malang dan Bali Jual Tiwul Instan di Malang bisa kirim ke Wonosari Jual Tiwul Instan Malang Jawa Timur Jual Tiwul Mentah Jual Nasi Jagung di Malang Bisa Kirim ke Surabaya  Semarang  Jogja  Jakarta  Malang dan Bali Jual Nasi Tiwul di Malang Jual Oleh Oleh Khas Malang Online Pabrik Tiwul Instan Penjual Oleh Oleh khas Malang Tempat Jual Oleh-Oleh Khas Malang Tempat Jual Oleh-Oleh Khas Malang bisa kirim ke Jakarta Tiwul Instan berasal dari Tiwul Instan dapat dikemas dengan Tiwul Instan Malang Tiwul Instan terbuat dari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar